Kota Surabaya lebih dikenal sebagai kota metropolis, banyak masyarakat tidak menyadari bahwa surabaya ternyata kaya akan khazanah islamnya. Dibuktikan dengan adanya situs-situs sejarah penyebaran islam yang terdapat di Kota Surabaya.
Salah satu tempat bersejarah adalah Masjid Al Abror Simolawang Surabaya, Masjid yang berada di tengah-tengah padatnya pemukiman warga tepatnya di jalan Simolawang gg 4 Surabaya. Masjid Al Abror awalnya hanya berupa surau kecil yang menurut sesepuh setempat, berdiri sekitar tahun 1890, hal tersebut dikuatkan dengan bentuk cungkup serta 4 pilar kayu yang saat ini masih terpasang di tengah-tengah bangunan Masjid Al Abror Simolawang Surabaya.
Dengan diprakarsai oleh ulama' serta tokoh-tokoh setempat diantaranya : KH Yatim (Sidokapasan), H. Zen Royyan (simolawang), KH. Dimyati (Simolawang), KH. Ali (Simolawang), serta Kyai Sugiman seorang ulama' asal Semarang yang sebelumnya merantau ke berbagai penjuru Nusantara mulai Aceh, Kalimantan serta daerah-daerah lainnya sampai akhirnya menetap di Sidokapasan dan wafat pada th 1984. Akhirnya dengan Ridho Allah SWT, surau kecil tersebut menjadi Masjid Al Abror yang menjadi kebanggaan warga Simolawang Surabaya.
Semakin banyaknya warga yang peduli dengan Syi'ar agama, banyak warga yang mewakafkan tanahnya untuk perluasan Masjid Al Abror, pengembangan dan pembangunan Masjid Al Abror dimulai Tahun 1952 sampai dengan th 1977. Pembiayaan proyek pengembangan pembangunan masjid al abror kala itu melalui partisipasi jama'ah dengan cara menaruh sumbangannya di atas Surban yang ditempatkan di pintu depan masjid setiap selesai sholat jum'at, selain itu juga menerima sumbangan dari masyarakat yang meminjam pengeras suara (sound sistem) untuk hajatan. Hingga akhirnya berdirilah Masjid Al Abror Simolawang seperti saat ini dengan luas 3600 m2.
Keberhasilan pembangunan fisik Masjid Al Abror yang dilakukan para ulama' serta tokoh-tokoh (sesepuh) kampung Simolawang diikuti dengan pembangunan rohani masyarakat setempat, hal tersebut nampak pada hadirnya para ulama' kharismatik Jawa Timur yang secara rutin memberikan tausiyah di Masjid Al Abror Simolawang. Masjid Al Abror merupakan pemrakarsa pengajian rutin di Surabaya. Tahun 1952 pertama kali pengajian rutin dilaksanakan dengan pengkaji Alm Almgfrlh KH Thohir Syamsuddin setiap hari senin malam setelah sholat maghrib, dengan kajian Kitab Riyadus Shalihin. Pada Tahun 1964 kuliah subuh mulai diadakan dengan pengkaji KH. Mujib Ridhwan. Diikuti dengan hadirnya KH. Shomad Bukhari yang sekarang ketua MUI Jatim sebagai pengkaji pada Tahun 1966. Hingga saat ini pengajian rutin tersebut tidak hanya terjaga tapi terus berkembang, dengan diadakannya pengajian rutin hampir setiap hari, baik setelah subuh maupun setelah Maghrib. Bahkan saat ini, untuk pengkaji tidak hanya dari kalangan para Kyai tetapi juga ada dari Ibu Nyai, karenan animo ibu-ibu muslimat yang tinggi.
Para Ulama' yang pernah hadir di Masjid Al Abror Simolawang Diantaranya adalah KH. Munawwar Jaelani, KH. Hamid Syukur, KH. Adnan Hamim, KH. Muhid Murtadho, KH. Ach. Zaki Ghufron, KH. Abdurrohim Ahmad.
Pembangunan fisik Masjid serta rohani masyarakat sekitar ternyata belum membuat puas para ulama' serta sesepuh setempat, dikarenakan semakin berkembangnya kehidupan masyarakat serta kehausan akan syi'ar yang dilakukan sehingga beliau-beliaunya memandang perlu untuk melakukan sesuatu agar dakwah yang dilakukan tidak hanya dapat dirasakan oleh masyarakat sekitar masjid al abror saja, tetapi lebih dari iti beliau-beliau menginginkan syi'arnya bisa bergema lebih jauh lagi.
Untuk mewujudkam keinginan tersebut maka didirikannya Radio pada tahun 1964 dengan nama Radio Menara 3. Dengan adanya radio tersebut maka kegiatan-kegiatan khususnya pengajian yang diadakan oleh Masjid Al Abror bisa didengarkan dan dinikmati tidak hanya oleh masyarakat Simolawang saja tapi bisa didengarkan dan dinikmati oleh masyarakat di kota-kota lain seperti Madura, Sidoarjo, Mojokerto, Pasuruan, Bangil Dll.
Pada Awal pendirian Radio Menara 3 belum dilengkapi dengan izin siaran, baru pada Tahun 1977 Radio Menara 3 memiliki izin siaran. Inovasi terus dilakukan oleh crew radio, hingga saat ini Radio Menara 3 sudah dilengkapi dengan streaming, sehingga jangkauannya tidak hanya meliputi wilayah Jatim, tapi dengan streaming sudah mampu didengarkan dimanapun selama jaringan internet masih tersedia. Disamping itu untuk menjalin hubungan dengan pendengar, Radio Menara 3 menyediakan website, sehingga pendengar bisa mengetahui segala hal yang ada di Radio Menara 3. Facebook, twiter juga sudah disediakan.
Begitu diperhitungkannya Masjid Al Abror Simolawang yang dibangun sebelum masa kemerdekaan serta kegiatan-kegiatan keummatan yang dilakukannya sehingga banyak para ulama' serta tokoh-tokoh yang menyempatkan hadir di Masjid Al Abror Simolawang walaupun letaknya berada di dalam kampung.
Para ulama' serta tokoh yang pernah menginjakkan kakinya di Masjid Al Abror Simolawang diantaranya adalah KH. Husaini, KH. Hasyim Muzadi, Alm Almgfrlah Romo KH. A. Asrori, Alm almghfrlh KH. Zainudin MZ, dan Qori' internasional H. Muammar ZA, bapak Arif Afandi, H. Syatibi, Irjen Pol. Drs. Anton Bahrul alam, dll.
Para ulama' pengkaji pengajian rutin di Masjid Al Abror Simolawang Tahun ini 2017 diantaranya adalah KH. Miftachul Akhyar (Wakil Rais Aam PBNU), KH. Yahya Chozin Pagesangan, KH. A. Dzulhilmi Ghazali Ampel, KH. Umar Sa'id Banyu urip, KH. Muhammad bin Ahmadun Mojokerto, KH. Sholeh Sahal nyamplungan, KH. Chumaidi Aziz Simolawang, KH. Zainal Arifin simolawang, Bu Nyai Hj. Musliha, Bu Nyai Hj. Fatma Abbas, Bu Nyai Hj. Kun Hilya.
Banyaknya Ulama' Kharismatik serta tokoh-tokoh, baik daerah maupun Nasional yang pernah datang ke Masjid Al Abror Simolawang merupakan salah satu bentuk pengakuan bahwa Masjid Al Abror Simolawang merupakan bagian penting bagi perkembangan Islam.
